Tampilkan postingan dengan label keselamatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keselamatan. Tampilkan semua postingan

13 April 2008

Tiga Keputusan Terbesar dalam Hidup Manusia

Sebagian besar dari Bahan Diskusi KAMBIUM (Komunitas Pertumbuhan Rohani
untuk Menjadi Murid Kristus) - Yayasan Gloria

Apa tiga keputusan terbesar dalam hidup seseorang? Ketiganya berkaitan
erat dengan waktu yang kita miliki dalam hidup ini.

3. Keputusan penting yang ketiga adalah "pekerjaan"
Manusia diciptakan untuk (bekerja) memelihara bumi. Berkarya adalah
natur alami yang memang ada dalam diri manusia. Jadi bekerja adalah
keharusan. Bahkan Paulus dengan tegas menegur orang-orang yang tidak
bekerja - tidak berhak makan.

2 Tesalonika 3:10
Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi
peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja,
janganlah ia makan.

Mengapa bekerja adalah sebuah keputusan yang vital dalam hidup kita.
Kembali ke panjang hidup kita. Pemazmur mengatakan bahwa panjang hidup
manusia adalah 70 tahun dan jika kuat 80 tahun. Sungguh ajaib bahwa
kebenaran dua ribu tahun lebih itu masih relevan hingga sekarang
meskipun kemajuan dunia kedokteran begitu pesatnya. Katakanlah kita
mulai masuk dalam angkatan kerja setelah menyelesaikan pendidikan ...
taruhlah usia 20 tahun (kondisi masing-masing orang akan berbeda-beda)
maka akan ada 50 tahun untuk berkarya.

Mari kita lihat penggunaan waktu kita dalam sehari (24 jam)
Tidur : 8 jam
Bekerja : 8 jam
Perjalanan kerja : 2 jam
Makan-minum, mandi : 2 jam
Nonton TV, baca koran/majalah/buku, dsb : 2 jam
Bercengkerama dengan anggota keluarga dan pasangan : 2 jam

Bisa disimpulkan bahwa 1/3 waktu kita habiskan di tempat tidur dan 1/3
yang lain di tempat kerja. Kita tidak mempunyai banyak waktu untuk orang
yang kita kasihi. Jadi jika bekerja memakan 1/3 dari waktu yang kita
miliki, maka keputusan tentang pekerjaan juga termasuk vital. Sehingga
menikmati pekerjaan adalah sesuatu yang layak untuk dipikirkan dalam-dalam.

Setiap orang diciptakan unik dengan minat, bakat, dan kemampuan
masing-masing. Tentu ada tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh
Pencipta kita dengan kondisi-kondisi tersebut. Pertanyaannya adalah
sudahkan kita menjalani pekerjaan yang memang ditujukan oleh Sang
Pencipta bagi kita.


2. Keputusan tentang "dengan siapa kita akan menghabiskan waktu selama hidup kita"
Keputusan tentang pasangan hidup. Alkitab menyatakan dengan gamblang
tentang ikatan suami istri yang sepanjang hayat itu.
Matius 19:6 - secara personal adalah ayat yang saya hafalkan berkaitan
dengan pekerjaan saya mencetak undangan pernikahan :D ...

"Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa
yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan oleh
manusia."

Bayangkan kita menikah dengan orang yang tidak tepat ...
Bagaimana kira-kira keadaan kita sewaktu bangun pagi?
"Oh ... tidak .. lagi-lagi ketemu dia ... "
Sungguh menyebalkan bukan?
Dan bayangkan hal itu terjadi sepanjang hidup kita sampai salah satunya
menghadap kekekalan.

Sebaliknya, jika kita menikah dengan orang yang tepat kita akan selalu
bersyukur karena ada dia di samping kita.

Bibit, bobot, bebet ... relevankah untuk jaman (paska) modern seperti
saat ini?
Menurut pendapat saya pribadi, sangat relevan. Dalam ilustrasi di buku
"Business by The Book" karangan Larrry Burkett, menjalin persekutuan
bisnis / kongsi (dan juga menikah) ibaratnya seperti menyatukan dua ekor
kerbau dalam satu kuk bajak untuk bekerja bersama-sama. Jika salah satu
ekor kerbau tersebut ukurannya jauh lebih besar dibanding kerbau yang
lain kira-kira bagaimana jalannya bajak tersebut? Tentunya yang kerbau
besar tadi akan merasa berusaha paling keras sedangkan kerbau kecil
hanya menambah beban saja. Di satu sisi, kerbau kecil akan merasa
dipaksa untuk mengimbangi kekuatan si kerbau besar. Dia akan
terseret-seret sambil tercekik lehernya karena kekuatannya tidak
berimbang. Dan kuk bajak yang terpasang itupun alih-alih menjadi sesuatu
yang menyatukan kedua kekuatan tersebut, malahan menjadi benda yang
menimbulkan luka-luka gesek pada kedua kerbau yang menariknya.

Ada anekdot menarik tentang waktu

Jika ingin mengerti apa artinya satu detik ...
tanyakan pada pembalap yang finis di urutan nomor dua.

Jika ingin mengerti apa artinya satu menit ...
tanyakan pada orang yang terlambat naik kereta

Jika ingin mengerti apa artinya satu jam ...
tanyakan pada kekasih yang menunggu jemputan

Jika ingin mengerti apa artinya satu hari ...
tanyakan pada ibu yang segera melahirkan anaknya

Jika ingin mengerti apa artinya satu bulan
tanyakan pada orang yang salah potong rambut

Jika ingin mengerti apa artinya satu tahun
tanyakan pada orang yang tidak naik kelas

Jika ingin mengerti apa artinya seumur hidup
tanyakan pada orang yang salah memilih pasangan

Artikel menarik lainnya tentang Cinta dan Cocok oleh Pdt. Paul Gunadi (Konselor Pernikahan dan Keluarga) bisa dibaca di blog rekan saya Dede Wijaya.

1. Keputusan tentang "dengan siapa kita akan menghabiskan waktu dalam kekekalan".
Ini menyangkut pilihan kita tentang Tuhan yang kita sembah. Jika kita
meyakini ada kehidupan setelah kematian, maka ini bukanlah suatu pilihan
yang main-main. Sungguh akibatnya adalah kekal. Katakanlah kekekalan
adalah panjang alam semesta raya ... bumi sekalian alam,
bermilyar-milyar galaksi yang pernah ditemukan manusia dan yang belum
ditemukan ... maka kehidupan kita saat ini ibaratnya setitik debu
dibandingkan panjangnya kekekalan yang akan kita jalani. Pilihan tentang
"siapa yang kita percaya" harus ditentukan dalam satu titik debu tadi
yakni sepanjang masa hidup fana kita di dalam dunia.

Sudahkah Anda mempersiapkan kekekalan?
Kira-kira apa alasan Allah membiarkan Anda masuk dalam kekekalan
surgawi bersama-sama dengan Sang Pencipta?
Semua usaha pembenaran manusia di hadapan Allah hanya mampu memberikan
jembatan pendek yang tidak mungkin menghubungkan manusia dengan
Kekudusan Allah dalam segala kesempurnaanNya. Maka, hanya Allah
sendirilah yang mampu dengan segala kemahakuasaanNya membuat jembatan
penghubung itu.

Dan jawaban Allah atas keselamatan manusia adalah melalui penebusan
Kristus Yesus. Manusia yang salah harus ditebus dengan manusia. Hewan
sebagai penebusan bagi manusia yang bersalah tentunya sangat tidak
imbang - tidak adil. Dan penebusan mewakili seluruh umat manusia yang
pernah hidup di sepanjang masa dan peradaban - dulu, kini, dan nanti -
hanya bisa dilakukan oleh Sosok yang Maha Kuasa ... yang tidak terbatas
dalam Waktu ... Dua syarat itu ada dalam diri Kristus.

25 Maret 2008

Peristiwa Terbesar dalam Sejarah Manusia

diambil dari renungan firman "Kasih Yang Melampaui Segala Akal"
Minggu, 23 Maret 2008
oleh Ev. Johan Setiawan

dengan beberapa catatan pribadi

Efesus 3:16-21
16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Dalam ay. 17, Paulus berdoa semoga jemaat Efesus mengenal betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. Mengapa ditekankan Paulus di sini... karena
Paulus telah menyadari bahwa kita TIDAK BISA SAMBIL LALU saja memikirkan tentang kasih Tuhan di atas salib.
Kasih Kristus melampaui segala akal.

Paskah adalah demonstrasi kasih Yesus. Paskah adalah peristiwa paling besar dalam sejarah dunia. Luar biasa... Namun, sebelum kita mengetahui seberapa "Maha" kah Allah itu, sulit mungkin bagi kita menjawab pertanyaan di atas.

Di Mana Kebesaran Paskah
Pada tanggal 20 Juli 1969, manusia untuk pertama kalinya mendarat di bulan. Hal ini sampai saat ini masih menjadi kontroversi di kalangan peneliti. Latar belakang pendaratan manusia di bulan ini adalah perang dingin yang terjadi antara dua kekuatan super power dunia saat itu yaitu Uni Soviet (sekarang terpecah-pecah menjadi beberapa negara lebih kecil, salah satunya Rusia) dan Amerika. Mereka saling berlomba dalam segala hal mulai dari olahraga (meraih sebanyak mungkin emas di Olimpiade) sampai ilmu pengetahuan termasuk ilmu keroketan ini. Rusia terlebih dahulu mengirimkan astronotnya ke luar angkasa untuk mengitari orbit bumi. (lebih lengkapnya silakan baca Apollo 11 dan Apollo Moon Landing Hoax Theories)

Terlepas dari kontroversi di atas, Nixon - Presiden Amerika saat itu - mengatakan bahwa ini adalah hari terbesar sejak penciptaan.

Bill Graham dengan serius mengingatkan Nixon itu bukan peristiwa terbesar dalam sejarah, masih ada Natal dan Paskah.

Lalu apa istimewanya "salib" itu? Yesus bukan orang pertama yang disalib. Sebelum dan sesudah Yesus ada banyak orang yang disalib. Yang membuat Jumat Agung menjadi sesuatu yang istimewanya adalah orang yang tergantung di salib itu ALLAH SEMESTA ALAM.

Apa makna semesta alam. Mari kita bayangkan seberapa besarkah bumi itu? Mari kita perbandingkan bumi dengan planet lain. Bandingkan dengan matahari. Di antariksa raya terdapat, 125 milyar galaksi yang terlihat ... Bumi kita merupakan ukuran mikroskopik dari alam semesta - semesta alam-

Mari kita bersama saksikan gambar berikut (sumber dari YTMND)




God is in the Details
catatan tambahan penulis
Pernyataan bahwa "Tuhan berada dalam setiap detil" dinyatakan oleh beberapa orang di antaranya Michaelangelo, Gustav Flaubert dan arsitek Mies van der Rohe. Dalam pandangan saya, sungguh Allah adalah sosok yang maha detil, maha teliti, dan maha jenius. Ketika saya mencoba memotret kehidupan semut dan serangga kecil lainnya dengan lensa yang dibalik (inverted lens macro method) sungguh saya takjub melihat betapa detilnya Tuhan menciptakan kehidupan, struktur-struktur sel yang menopang kehidupan, keseimbangan ekosistem, bagaimana Tuhan membuat otak manusia sehingga peradaban manusia berkembang sedemikian jauh. Tuhan telah merancangkannya dengan luarbiasa baik dan sempurnanya. Allah yang makro sekaligus mikro.


Foto yang lain bisa dilihat di sini


Pertanyaannya adalah

Seberapa "MAHA"kah Tuhan dalam bayangan kita? Jangan-jangan Ia terlalu kecil di pikiran kita.

Terkungkung dalam volume sel di batok kepala kita yang sempit (namun berusaha menguasai dunia). Ia adalah Allah yang mengukur langit dengan jengkalNya.

Mengetahui kebenaran itu sudah selayaknyalah Allah mendapatkan segala sujud hormat dari manusia.
Seperti yang dikatakan pemazmur Daud,
"Langit menceritakan kemuliaan Tuhan
... Siapakah manusia sehingga Ia mengingatnya?"
Siapakah saudara dan saya sehingga Ia rela mati menebus dosa manusia. KematianNya bukan berarti bahwa kita penting tetapi ini adalah bukti Allah mengasihi kita dengan luar biasa.

Apakah Tuhan Mengasihiku?
Filipi 2:6-8
6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Mengapa Kristus harus menjalani penderitaan dan kematian?
Apakah Ia sekedar menyatakan bahwa Ia mengasihi kita? Mati konyol ... jika Ia hanya bertujuan menunjukkan kasihnya. Tidak ada bedanya dengan seseorang yang menyatakan cinta mati kepada kekasihnya lalu untuk membuktikannya ia rela terjun bebas dari lantai 23.

Mengapa Yesus rela mati? Karena Tuhan Kudus dan Adil, maka setiap dosa akan mendapat upahnya. Di sisi yang lain, Tuhan juga Kasih sehingga Ia berinisiatif mengampuni orang berdosa.
Ketika kita melihat penderitaan Kristus mari kita lihat Allah yang serius menolak dosa.
Dosa mengakibatkan penghukuman kekal.

Dosa seorang manusia hanya dapat ditebus oleh manusia juga. Korban-korban lain seperti kambing, sapi (bahkan uang/emas) tidak setara dengan manusia. Manusia harus digantikan manusia. Yesus adalah 100% manusia. Bagaimana 1 orang Manusia ini dapat menjadi penebusan bagi seluruh umat manusia yang pernah hidup pada masa lampau hingga masa yang akan datang. Yesus juga 100% Allah. Dengan dua premis ini maka kematiannya di atas salib mampu menanggung dosa seluruh umat manusia.

Apakah Tuhan mengasihi kita? ... pasti. Lihatlah salib ... ingat bahwa itu buktinya


Kasih Tuhan dan Ukuran Dunia
1 Yoh 4:9
9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
Roma 5:8
8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Penebusan Kristus adalah bukti yang nyata bahwa Allah mengasihi kita.
Tidak pernah dikatakan dalam Alkitab bahwa kasih Allah dinyatakan dalam kekayaan, kesembuhan dan kesuksesan orang-orang yang mengikut Dia.

Jika kita menanyakan apakah Allah mengasihi kita dengan tolok ukur kekayaan, kesembuhan, kesuksesan maka pertanyaan itu menjadi salah alamat karena kita berpangkal dari ukuran2 dunia.

Beberapa orang malahan membalik premis ini menjadi: "Jika Tuhan tidak mengasihi saya (dengan memberikan harta, kesenangan) maka saya tidak mengasihi Tuhan."

Kesalahan Pertama
Kita tidak pernah layak untuk dikasihi oleh Allah. Kita lupa bahwa kita adalah pendosa yang memberontak. Coba baca lagi tentang kisah anak yang hilang ... Ia menuntut harta warisan ayahnya (ketika ayahnya masih hidup -penghinaan besar bukan?) kemudian menghambur-hamburkannya sampai jatuh miskin dan saking miskinnya mau makan makanan ternak babi. Kemudian ia sadar dan ingin kembali ke rumah ayahnya karena di sana para budaknya pun makan dan hidup dengan layak. Anak itu bahkan mau menjadi budak ayahnya sekiranya ayahnya menolak menerimanya kembali sebagai anak.

Kita sebagai anak yang hilang itu, yang tidak layak diterima kembali sebagai anak ... masihkah kita berani menuntut sesuatu kepada Bapa kita. Allah semesta alam itu?

Kesalahan Kedua
Kita mencari bukti kasih Allah melalui kekayaan, kesembuhan dan kesuksesan. Walaupun Tuhan seringkali berbaik hati memberikannya kepada kita. Kita sering memandang Tuhan dengan teleskop terbalik. Memandang bahwa diri kita lebih besar dan lbih penting daripada Allah. Kita menganggap Allah enteng sehingga kita sembrono dan tidak sungguh2.

CT Studd - pendiri WEC mulanya adalah pengusaha kaya lalu menyerahkan diri kepada Kristus.
Dalam pertobatannya ia mengungkapkan satu kalimat

Jika Yesus benar-benar Allah dan Dia mati bagiku, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk kulakukan bagi Dia.
Mari berhenti untuk berhitung dengan Tuhan. Persembahkan hidup kita
dengan segenap hati, jiwa, dan segenap akal budi. Semuanya itu sangat layak diterima oleh Allah Pencipta Alam yang telah mati bagi kita.

20 Maret 2008

Aku Berhutang 200.000 Tahun Kerja

dari khotbah Persekutuan Pemuda GKKK Yogya
disampaikan oleh Rony Sofian - Sabtu, 15 Maret 2008
terinspirasi dari What's So Amazing About Grace - Philip Yancey

Orang tua Cliff Muntu -salah seorang korban tewas dalam kasus bullying di IPDN- suatu kali pernah diundang dalam acara Kick Andy di Metro TV. Saat itu, Andy menanyakan kepada mereka "Kira-kira apa akan Bapak dan Ibu lakukan jika bertemu dengan para senior yang membunuh Cliff Muntu?"

Jawab mereka, "Kami akan mengampuni mereka sambil memeluk mereka."
Andy F. Noya tertegun tak percaya. Bagaimana mungkin hal itu dilakukan.
Di sisi lain, orang tua Cliff Muntu ini memberikan kesaksian tentang kehidupan orang Kristen. Bagaimana kita harus mengampuni seperti Bapa telah mengampuni kita.


Matius 18:21-35

21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Perikop di atas sebelumnya diawali dengan bagaimana menegur orang yang bersalah, kemudian muncul Petrus yang menanyakan berapa kali seseorang harus mengampuni orang lain yang bersalah kepadanya?

Dalam adat Yahudi 3 kali pengampunan kepada orang yang sama itu sudah maksimal. Bahkan cenderung berlebihan. Petrus ketika menanyakannya kepada Yesus sudah berusaha melebihkannya jadi 7 kali. Tujuh adalah angka sempurna dalam beberapa bagian cerita di Alkitab. Namun bagaimana jawab Yesus? ... 70x7 kali.

Secara harfiah ini berarti 490 kali. Pernahkah Anda dalam satu waktu menghitung dari 1 sampai 490. Bukan pekerjaan yang mudah, melelahkan dan cenderung membosankan bahkan. Dan pasti di tengah-tengah kita menghitung akan ada angka yang terlewatkan. Bagaimana dengan menghitung kesalahan orang lain? Mungkinkah mereka melakukannya sekaligus 490 kali kesalahan sembari Anda menghitungnya saat itu juga. Mustahil. Di sini, bukan jumlah yang dimaksud Yesus, tetapi hati yg rela untuk terus mengampuni

Hutang 200.000 Tahun
Jika kita cermati kisah tentang seorang hamba yang berhutang kepada tuannya 10.000 talenta. Berapa banyak sih 10.000 talenta itu? Silakan buka pada halaman paling belakang di Alkitab kita. Di sana ada keterangan tentang kata-kata, ukuran-ukuran yang digunakan pada jaman itu.

1 talenta = 6.000 dinar
1 dinar= upah 1 hari kerja

katakanlah
1 tahun = 300 hari kerja

berarti
1 talenta = 6.000 dinar / 300 = 20 tahun kerja
10.000 talenta = 200.000 tahun kerja

Bisa dibayangkan betapa banyaknya hutang hamba itu.
Jika dinalar, hamba yang meminjam tersebut pasti bukan pejabat sembarangan tapi sangat mungkin hamba yang dekat dengan raja! Bahkan tidak menutup kemungkinan orang kepercayaan raja.

Bagaimana jawab hamba itu ketika Raja menagih hutangnya?
"Sabarlah dahulu hutangku akan kulunaskan ... "
Kedengaran klise? Tidak mungkin bukan? Jika keluarganya dijual sebagai budak pun hutangnya tidak akan terlunasi hutangnya. Katakanlah seorang bisa hidup selama 80 tahun. Jika anggota keluarga itu ada 4 orang. Dijual sebagai budak baru menyelesaikan 320 tahun (80x4 tahun) dari
nilai hutangnya yang sebesar 200.000 tahun kerja.

Bagaimana keputusan sang Raja? Melepaskannya ...
"Lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan ... "
frase ini diulang beberapa kali dalam Alkitab untuk menunjukkan betapa Allah sangat menaruh iba kepada manusia. Frase ini mewakili hati Bapa yang begitu mengasihi manusia.

Bagaimana ekspresi hamba yang dibebaskan dari kasus itu? Ironisnya, ketika ia bertemu dengan temannya yang berhutang 100 dinar padanya, ia mencekik temannya dan mengancam dia. Bandingkan dengan hutangnya 10.000 talenta (60.000.000 dinar)
Jumlah yang sangat kecil. Terlalu kecil dalam ukuran statistika ... bisa diabaikan.

Yesus menyampaikan perumpamaan ini sebagai refleksi atas hidup kita. Kita adalah hamba yang berhutang 10.000 talenta itu. Kita berhutang 200.000 tahun bekerja pada tuan tersebut. Dan seringkali kita masih juga tidak mampu memaafkan orang lain yang "berhutang 100 dinar" kepada kita.

19 Februari 2008

DOSA ITU ASYIK


Kapan terakhir kali Anda berbuat dosa tetapi hanya sedikit saja merasa bersalah atau bahkan tidak menyesal telah melakukannya ? Hati-hati! Mungkin hati Anda sudah mati ... !

Hidung yang Tersumbat

Kita sering tertipu dengan anggapan bahwa dosa adalah hal yang biasa, lumrah terjadi, ... semua orang melakukannya. Dosa kita bayangkan seperti melakukan kenakalan kecil di kelas. Melempar pesawat kertas di saat guru sedang menulis menghadap papan tulis. Ya... kita hanya kadang-kadang nakal seperti anak-anak, tidak lebih. Tidak sedikit pula orang yang beranggapan bahwa dosa itu khayalan teologis, tidak nyata. Tentu saja nyata! Ada banyak tidakan kriminal yang jelas-jelas salah dan dosa. Tetapi kita sendiri melonggarkan peraturan tentang dosa jika menyangkut daerah abu-abu. Kita berkompromi! Yang lebih gawat lagi, beberapa menggangap dosa sebagai kebebasan dan pernyataan diri. Bebas melakukan segala-sesuatu, bersenang-senanglah, nikmatilah hidup karena hidup hanya satu kali ...
Tidakkah semua hal di atas akrab di telinga kita? Itu semua aroma dosa yang salah. Bahayanya, aroma itu sudah membuat hidung teologis kita tersumbat dan terinfeksi. Kita menjadi pesakitan dosa!

Aroma Dosa menurut Yesus
Don Everts dalam buku ini dengan jelas menyingkapkan arti dosa yang sesungguhnya. Membaca buku ini akan membuat Anda menyadari bahwa DOSA ITU SANGAT SERIUS !
Perhatikan kutipan firman berikut,

"Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, ..." (Matius 5:29)

Sedemikian seriusnya dosa itu sehingga Yesus sendiri memberi peringatan keras. Bayangkan jika Anda harus mencungkil bola mata Anda sendiri, menggergaji tangan Anda sendiri supaya tidak berbuat dosa. Menurut Yesus, kehilangan bola mata (yang sangat Anda sayangi) jauh lebih baik daripada melakukan dosa. Coba baca Matius 18:8,9. Hal yang sama diulangi Yesus. Diulang sampai dua kali berarti Yesus sungguh-sungguh ingin menekankan bahwa dosa bukan perkara yang main-main.

Dosa dalam bahasa Yunani adalah hamartia - bidikan yang meleset. Meleset? Apa sasarannya? Alih-alih membuat daftar panjang tentang dosa, Yesus justru memberikan penjelasan lewat perumpamaan.
Jika pertanyaan yang sering kita ajukan adalah - apa itu dosa dan apa batasan dosa, Yesus melontarkan pertanyaan lain -seperti apa rasanya berbuat dosa?
Di bagian ketiga buku ini, Don Everts membeberkan sudut pandang Yesus tentang aroma dosa dalam beberapa point :

1. Pengkhianatan dalam keluarga

Sejak kita menerima Yesus, kita menjadi bagian dalam keluarga-Nya. Aroma dosa digambarkan Yesus lewat perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Anak yang menuntut ayahnya membagi warisan (bahkan ketika ayahnya masih terlihat sehat) lalu pergi ... orang-orang Yahudi yang mendengar hal itu pasti merasa muak.

Kisah yang lain adalah tentang seorang ayah yang mempunyai dua anak laki-laki (Matius 21:28-32). Suatu ketika ayahnya menyuruh mereka untuk bekerja di ladang seperti biasanya. Yang seorang menolak mentah-mentah sedangkan anak yang lain meng-iya-kan. Tetapi anak yang meng-iya-kan ini ternyata tidak melakukan perintah ayahnya! Ia tidak pergi ke ladang pada hari itu! ... ”Itu menghina! Merendahkan!”, demikian bisik orang Yahudi yang mendengarkan-Nya sambil (sekali lagi) merasa muak.
Dalam Kitab Hosea (PL), Allah menyamakan umat Israel yang berdosa sebagai pengantin yang berzina, bersundal. Lagi-lagi pengkhianatan.
Seperti itulah aroma dosa. Dosa selalu terjadi dalam keluarga. Apa sasarannya? Keluarga yang harmonis. Apa artinya meleset? Menghina orangtua yang penuh kasih dan memberontak terhadap mereka. ”Seperti meludahi wajah ibumu saat ia tengah menyediakan makanan lezat bagimu... ” demikian tutur Don Everts.
Ya ... pengkhianatan dalam keluarga. Ada ayah yang terluka dan ibu yang terhina serta menangis. Setiap kali kita berbuat dosa (lagi), Allah tidak saja marah. Ia dikhianati, terluka dan menangis.

2. Bunuh diri
Yesus meminta kita membayangkan ranting anggur yang memutuskan untuk melepaskan diri dari pokoknya. Ranting cokelat yang bodoh. Sesaat mereka merasa bebas dan tidak perlu lagi menjaga pokok anggur itu. Tetapi begitu terlepas dari pokoknya, ranting itu tidak lagi mendapatkan makanan. Ia akhirnya mati. Berbuat dosa berarti menolak sumber makanan. Itu artinya bunuh diri rohani.

3. Tersesat
Seperti domba yang tidak bergembala. Ketika kita memilih berdosa, kita seperti domba yang memilih menutup matadan telinganya dari tuntunan gembala, lalu mulai mengembara. Tersesat, tak berdaya, dan tidak memiliki harapan lagi. Pada akhirnya terjatuh ke jurang atau dimangsa binatang buas.

4. Tidak wajar. Aneh.
Don Everts mengajak kita membayangkan Lazarus yang dihidupkan kembali (keselamatan) namun betapa anehnya jika ia tetap mengenakan kain kafannya setiap hari kemudian juga sesekali dalam seminggu tidur di gua kubur yang pernah ditinggalkannya. Aneh. Tidak wajar. Memalukan. Setelah memperoleh keselamatan, kita seharusnya hidup dalam penyucian.

5. Hidup di bawah perbudakan
Dosa memproklamirkan diri sebagai kemerdekaan untuk berbuat segala sesuatu yang kita inginkan. ” ... sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” itu yang dikatakan Yesus tentang dosa. Saat berbuat dosa, kita terikat sedemikian rupa dengan dosa itu hingga kecanduan. Budak hidup di bawah tekanan, diikat, dicambuk dan jarang makan.

Setelah panjang lebar mengungkap aroma dosa, dalam bagian terakhirnya Don Everts mengajak pembacanya untuk menghirup udara kasih karunia. Udara itu terasa amat segar setelah kita mengerti hakikat dosa yang sesungguhnya. Dalam bagian terakhir ini, Don Everts juga mengajak kita untuk memiliki disiplin pengakuan dosa dan kelompok-kelompok kecil sebagai pengawas kita.

Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, pembahasan tentang dosa menjadi lebih hidup dan dekat. Don Everts dengan anggun menulis puisi-puisi di awal dan akhir bab seputar pembicaraaan yang dibahasnya. Menyelesaikan buku ini sungguh akan membuat Anda menyikapi dosa dengan cara yang berbeda dan sangat mungkin Anda tidak akan berani berbuat dosa lagi.